Minggu, 10 Juni 2012

Laporan Fisiologi Hewan Air


                                                                                                                                                     I.        PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
Keanekaragaman salinitas dalam air laut akan mempengaruhi jasad-jasad hidup akuatik melalui pengendalian berat jenis dan keragaman tekanan osmotik. Salinitas menimbulkan tekanan-tekanan osmotik. Pada umumnya kandungan garam dalam sel-sel biota laut cenderung mendekati kandungan garam dalam kebanyakan air laut. Jika  sel-sel itu berada di lingkungan dengan salinitas lain maka suatu mekanisme osmoregulasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan kepekatan antara sel dan lingkungannya. kebanyakan binatang estuarin penurunan salinitas permulaan biasanya dibarengi dengan penurunan salinitas dalam sel, suatu mekanisme osmoregulasi baru terjadi setelah ada penuruan salinitas yang nyata (Mahyuddin, K, 2011).
Osmoregulasi merupakan suatu fungsi fisiologis yang membutuhkan energi, yang dikontrol oleh penyerapan selektif ion-ion yang melewati insang dan pada beberapa bagian tubuh lainnya dikontrol oleh pembuangan yang selektif terhadap garam-garam. Kemampuan osmoregulasi bervariasi bergantung suhu, musim, umur, kondisi fisiologis,jenis kelamin dan perbedaan genotif (Affandi, 2002).
Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal  Menurut Affandi (2002), ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal.
Ketika suatu organisme air (ikan) dimasukkan kedalam suatu lingkungan dengan salinitas yang berbeda. Maka proses osmoregulasi akan lebih cenderung tinggi di bandingkan dengan lingkungan awalnya. Mengapa? Karena dalam proses ini organisme air tersebut akan cenderung mengontrol keseimbangan dalam tubuhnya. Oleh karena itu, jika pada kondisi tersebut organisme air tidak dapat menetralkannya maka akan berdampak pada fungsi kehidupan organisme itu sendiri (Kusrini, E. 2007).
Sedangkan pada ikan bandeng dewasa memilki daya adaptasi yang baik dalam mengatasi perubahan salinitas yang semakin tinggi atau semakin rendah , namun walaupun demikian memiliki batas tolerensi tertentu dan waktu yang lama akan menghadapi dehidrasi atau mengalami turgor sehingga menyebabkan kematian
Ikan Bandeng yang masih benih  mengalami kesulitan dalam toleransi terhadap perubahaan salinitas yang tinggi ataupun rendah karena belum terbiasa dengan perubahan salinitas tersebut (Affandi, 2002).
1.2.   Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah mengamati pengaruh salinitas yang berbeda terhadap proses osmoregulasi pada organism air (Ikan)
Manfaat dari kegiatan praktikum ini adalah mahasiswa secara langsung dapat mengetahui pengaruh salinitas yang berbeda terhadap proses osmoregulasi ikan
                                                                                                                                   II.            TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Klasifikasi dan Morfologi

            Menurut Burhanuddin, A. (2008) klasifikasi dan Morfologi ikan bandeng (Chanos chanos ) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Vertebrata
Class : Teleostei
Ordo : Malacopterygii
Family : Chanidae
Genus : Chanos
Species : Chanos chanos
 





Gambar 1. Morfologi Bandeng (Chanos chanos)               
                                                 (Sumber: Anonim, 2011)

Bandeng mempunyai penampilan yang umumnya simetris dan berbadan ramping, dengan sirip ekor yang bercabang dua. Mereka bisa bertambah besar menjadi 1. 7 m, tetapi yang paling sering sekitar 1 meter panjangnya. Mereka tidak memiliki gigi, dan umumnya hidup dari ganggang dan invertebrata. insang terdiri dari tiga bagian tulang, yaitu operculum suboperculum dan radii branhiostegi. seluruh permukaan tubuhnya tertutup oleh sisik yang bertipe lingkaran yang berwarna keperakan, pada bagian tengah tubuh terdapat garis memanjang dari bagian penutup insang hingga ke ekor. Sirip dada dan sirip perut dilengkapi dengan sisik tambahan yang besar, sirip anus menghadap kebelakang. Selaput bening menutupi mata, mulutnya kecil dan tidak bergigi, terletak pada bagian depan kepala dan simetris. Sirip ekor homocercal. alat pernapasan tambahan terletak di bagian kepala (Puspowardoy, 2003).
Menurut Burhanuddin, A. (2008) klasifikasi dan Morfologi ikan bandeng (Chanos chanos ) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Vertebrata
Class : Pisces
Ordo : Ostariophysoidei
Family : Claridae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias gariepinus
 




Gambar 2. Morfologi Lele (Clarias gariepinus)
                                                 (Sumber: Anonim, 2011)
Ikan-ikan marga Clarias ini dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga panjang, yang terkadang menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Ikan ini memiliki kulit berlendir dan tidak bersisik (mempunyai pigmen hitam yang berubah menjadi pucat bila terkena cahaya matahari, dua buah lubang penciuman yang terletak dibelakang bibir atas, sirip punggung dan dubur memanjang sampai ke pangkal ekor namun tidak menyatu dengan sirip ekor, panjang maksimum mencapai 400 mm.
Pada ikan lele, gonad ikan lele jantan dapat dibedakan dari ciri-cirinya yang memiliki gerigi pada salah satu sisi gonadnya, warna lebih gelap, dan memiliki ukuran gonad lebih kecil dari pada betinanya. Sedangkan, gonad betina ikan lele berwarna lebih kuning, terlihat bintik-bintik telur yang terdapat di dalamnya, dan kedua bagian sisinya mulus tidak bergerigi. Sedangkan organ – organ lainya dari ikan lele itu sendiri terdiri dari jantung, empedu, labirin, gonad, hati, lambung dan anus (Fujaya, Y. 2004)
2.2.  Habitat dan Penyebaran
Larva bandeng merupakan bagian dari komunitas plankton di laut lepas yang kemudian hidup dan berkembang, hidup di perairan pantai berpasir, berair jernih dan banyak mengandung plankton, serta bersalinitas 25-35 0/00 . larva berumur lebih dari 25 hari atau disebut juga nener, hidup di perairan pantai berkarang atau pantai berlumpur, berair jernih yang kadang-kadang ditumbuhi vegetasi campuran atau mangrove, namun subur dan bersalinitas 25-35 0/00
            Penyebaran Ikan Bandeng yang sangat luas, yakni dari pantai Afrika Timur sampai ke Kepulauan Tuamutu, sebelah timur Tahiti, dan dari Jepang Selatan sampai Australia Utara. Namun demikian, ikan bandeng jarang tertangkap sebagai hasil laut (Marshall, W.S., dan M. Grosell. 2006)
Ikan lele yang hidup di indonesia banyak ditemui di sawah, sungai, kolam, empang, rawa-rawa dll. Ikan lele mudah beradaptasi pada lingkungan yang cukup keras. Air bekas limbah rumah tangga, air berlumpur. Air yang baik untuk hidup dan berkembang biak ikan lele adalah air yang mengalir. Air yang digunakan untuk ternak ikan lele dapat berasal dari air sumur, air ledeng , air hujan, air sungai dll. Hidup pada Ph 6,5-7,5 dan pada suhu 25-30 0C
Ikan lele banyak ditemukan di Benua Afrika dan Asia Tenggara. Komoditas perikanan ini terdapat di perairan umum yang berair tawar. Penyebaran lele di Asia, yaitu negara Indonesia, Thailand, Filipina, dan Cina. Ikan lele di beberapa negara, khususnya di Asia telah diternakkan dan dipelihara di kolam, seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Laos, Filipina, Kamboja, Birma, dan India. Ikan Lele di Indonesia secara alami ditemukan di Kepulauan Sunda Besar maupun Kepulauan Sunda Kecil (Marshall, W.S., dan M. Grosell. 2006).
2.3.  Reproduksi
Bandeng memijah secara alami pada tengah malam sampai menjelang pagi. Pemijahan bandeng berlangsung secara partial yaitu telur yang sudah matang dikeluarkan, sedang yang belum matang terus berkembang di dalam tubuh untuk pemijahan berikutnya. Dalam setahun, satu ekor bandeng dapat memijah lebih dari satu kali. Siklus reproduksi bandeng dimulai dari perkembangan gonad yang berdasarkan nilai Gonade Somatic Indeks (GSI), diameter telur dan penampakan histologis gonad terbagi atas muda (immature), berkembang (developing), matang (mature), siap pijah (gravid) dan salin (spent). Bobot gonad pada fase matang berkisar 10-25 % berat tubuh.
Indikator pemijahan adalah bandeng jantan dan betina beriringan dengan posisi jantan berada di belakang betina. Pemijahan lebih sering terjadi pada saat pasang rendah dan fase bulan seperempat. Telur bandeng ditetaskan di perairan sedang sampai hangat dengan suhu 26o sampai 320 C dengan salinitas air 29-34 o/oo.
Di alam, telur berbentuk bulat dengan diameter 1,10-2,25 mm, tidak memiliki gelembung lemak, ruang perivitelin sempit, berasal dari hasil pemijahan induk bandeng di perairan pantai atau relung karang. Telur yang telah dibuahi menetas pada suhu 27-31 0 C dalam waktu 25-35 jam setelah pembuahan, kemudian terbawa arus ke arah pantai (Mahyuddin, K, 2011).
Lele berkembang biak secara ovipar (eksternal), yaitu pembuahan terjadi di luar tubuh. Artinya, spermatozoa membuah telur di luar tubuh ikan. Untuk membuahi telur, spermatozoa harus bergerak. Spermatozoa pada induk jantan tersebut bersifat immotile dalam cairan plasmanya dan akan bergerak apabila bercampur dengan air.
Pertemuan gamet jantan dan betina ini akan membentuk zigot sebagai cikal bakal menjadi generasi baru. Perkembangan gamet jantan (sperma) maupun betina (ovum) diatur oleh hormon sejenis gonadotropin. Dengan bertelur, mula-mula ikan yang berlainan jenis berenang berpasangan sambil menari-nari. Pelepasaan telur dari induk betina diikuti pelepasan sperma oleh induk jantan, lalu terjadi pemijahan di dalam air (pemijahan eksternal). Telur yang dibuahi akan menetas dalam waktu 20 jam. Induk betina akan berjaga di sarang sampai anak lele mandiri, sedangkan induk jantan langsung pergi setelah pemijahan. Seekor betina dapat menghasilkan 1 000 – 4 000 butir telur setiap kali pemijahan (Hernowo. A dan Suyanto R. 2006)
2.4.  Makanan dan Kebiasaan makan
            Larva bandeng aktif makan pada siang hari (diurnal feeder) sampai berumur 15 hari, baru pada 21 hari dapat makan pada malam hari. Larva mulai makan sesaat setelah mata berpigmen penuh dan saat mulut membuka (54 jam setelah menetas) dan sebelum kuning telur diserap sepenuhnya. Lebar bukaan mulut larva 225 mikron dan panjang rahang 200 mikron. Larva memangsa makanannya sekaligus danmenelannya bulat-bulat.
Gelondongan bandeng lebih banyak makan pada siang hari daripada malam hari. Jenis makanan yang dimakan adalah alga (cyanobacteri, diatom, detritus, dan alga hijau berfilamen) dan hewan (udang kecil dan cacing). Karena kebiasaan mencerna makanan asal lapisan atas sedimen dasar, bandeng termasuk dalam kelompok iliophagous.
Induk memangsa alga ataupun hewan dengan jalan menyaring menggunakan saringan insang sambil berenang di antara kumpulan plankton yang padat atau kumpulan anak ikan. Kadang, juga memakan alga yang menempel di karang dan benih kerang yang menempel pada rumput laut (Fujaya, Y. 2004)
Lele mempunyai kebiasaan makan di dasar perairan atau kolam (bottom feeder). Berdasarkan jenis pakannya, lele digolongkan sebagai ikan yang bersifat karnivora (pemakan daging). Di habitat aslinya, lele makan cacing, siput air, belatung, laron, jentik-jentik serangga, kutu air, dan larva serangga air. Karena bersifat karnivora, pakan tambahan yang baik untuk lele adalah yang banyak mengandung protein hewani. Jika pakan yang diberikan banyak mengandung protein nabati, pertumbuhannya lambat  (Anonim, 2012)
Lele bersifat kanibalisme, yaitu sifat suka memangsa jenisnya sendiri. Jika kekurangan pakan, lele tidak segan-segan memangsa kawannya sendiri yang berukuran lebih kecil. Oleh karena itu jangan sampai terlambat memberinya makan. Sifat kanibalisme juga ditimbulkan oleh adanya perbedaan ukuran. Lele yang berukuran besar akan memangsa ikan lele yang berukuran lebih kecil (Mahyuddin. K, 2011).
2.5.  Osmoregulasi
Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang dilakukan oleh organisme air untuk mengatur kehidupannya sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal. Ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal (Marshall dan  Grosell, 2006).
            Proses osmoregulasi ini terjadi karena adanya pengaturan konsentrasi ion-ion  konsentrasi cairan tubuh, dimana proses ini juga membutuhkan energi. Bila ikan air tawar dimasukkan dalam medium air laut maka yang akan terjadi adalah pemasukan air dalam tubuh ikan dari medium dan juga berusaha mengeluarkan sebagian garam-garam dari dalam tubuhnya. Bila ikan tidak dapat melakukan proses ini, maka sel-sel ikan akan pecah (turgor) dan jika terjadi sebaliknya ikan akan kekurangan cairan atau biasa disebut dehidrasi (Fujaya, 2004).
            Tujuan utama osmoregulasi adalah untuk mengontrol konsentrasi larutan dalam tubuh ikan. Apabila ikan tidak mampu mengontrol proses osmosis yang terjadi, ikan yang bersangkutan akan mati, karena akan terjadi ketidakseimbangan konsentrasi larutan tubuh yang akan berada di luar batas toleransinya (Takeuchi, dkk., 2002).
Ada tiga pola regulasi ion dan air, yakni : (1) Regulasi hipertonik atau hiperosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi dari konsentrasi media, misalnya pada potadrom (ikan air tawar). (2) Regulasi hipotonik atau hipoosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi media, misalnya pada oseandrom (ikan air laut). dan (3) Regulasi isotonik atau isoosmotik, yaitu bila konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi media (Takeuchi, dkk., 2002).
 








Gambar 3. Sistem Osmoregulasi pada Ikan
(Sumber :  Anonim, 2011)
            Pada gambar 3 sebelumnya, kita dapat melihat perbedaan antara osmoregulasi ikan air tawar dan ikan air laut. jika dilihat dari sistem keseimbangannya, ikan air tawar termasuk hipertonik karena tekanan osmotik lingkungan lebih rendah di bandingkan dengan tekanan osmotik lingkungan  sehingga untuk melakukan proses osmoregulasi ikan air tawar lebih banyak melakukan pembuangan urine. Hal ini dilakukan karena untuk mengontrol keseimbangan garam-garam yang ada dalam tubuhnya. Sedangkan pada ikan air laut karena bersifat hipotonik maka lebih cenderung banyak minum agar garam-garam di dalam tubuhnya tetap netral sehingga tidak terjadi yang namanya dehidrasi (Takeuchi, dkk., 2002).





















                                                                                                                             III.            METODE PRAKTIKUM
3.1.  Waktu dan Tempat
      Kegiatan praktikum ini dilaksanakan pada hari sabtu, 28 April 2012 pada pukul 15.00-16.00 Wita.  Bertempat di laboratorium A Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo.
3.2.  Alat dan Bahan
      Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum osmoregulasi ikan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini :
Tabel 1.  Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum osmoregulasi ikan adalah :
No
Alat dan Bahan
Kegunaan
1





2

Alat :
-          Toples  Besar
-          Refraktometer
-          Seser
-          Stopwach

Bahan :
-          Benur Ikan Bandeng (Chanos chanos)
-          Benih Ikan Lele (Clarias gariepinus
-          Air Laut
-          Air Tawar

Sebagai wadah untuk pengamatan
Alat Pengukur salinitas
Mengambil benur atau benih ikan
Menghitung waktu


Hewan uji dalam osmoregulasi

Hewan uji dalam osmoregulasi

Media hidup suatu organisme air
Media hidup suatu organisme air


3.3.Prosedur Kerja
-          Siapkan 6-12 wadah (toples) yang bersih dan beri label masing-masing : 0, 10,15 ,20 , 25 dan 30 ppt
-          Masing-masing wadah diisi dengan air dengan salinitas sesuai dengan konsentrasi label pada wadah
-          Ukurlah salinitas air//media asal organisme yang dijadikan sebagai hewan uji
-          Masukkan secara perlahan 3-5 ekor hewan uji ke dalam tiap wadah dan amati tingkah lakunya.
-          Lakukan pengamatan selanjutnya setiap 15 menit selama satu jam dan catat semua tingkah lakunya.
-          Catat hasil pengamatan pada tabel yang telah disediakan
















4.2. Pembahasan
            Menurut (Fujaya, 2004), Osmoregulasi merupakan pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang dilakukan oleh organisme air untuk mengatur kehidupannya sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal. Osmoregulasi ini dilakukan untuk menjaga ikan tersebut agar tetap bertahan hidup.  Organisme hewan air (Ikan) tawar dan air laut sangatlah berbeda artinya bahwa ketika kedua organisme ini dimasukkan kedalam habitat yang berbeda (bukan habitat asalnya) maka proses osmoregulasi akan bertambah tinggi. Hal ini terjadi karena adanya penyesuaian cairan tubuh dengan lingkungannya. Beberapa spesies ikan mampu beradaptasi dengan salinitas yang tinggi maupun rendah namun tetap memiliki batas toleransi, semakin lama suatu organisme hewan air (ikan) pada salinitas tertentu maka akan cenderung melakukan osmoregulasi yang tinggi , sehingga akan mengeluarkan energi yang banyak dan dalam jangka tertentu akan menyebabkan kematian pada organism hewan air (ikan) itu sendiri
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada benur/nener ikan bandeng . Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada menit 0-15 dengan salinitas 0- 30 ppt pergerakan ikan masih terlihat aktif atau belum menandakan adanya perubahan yang signifikant pada tingkah lakunya. Hal ini terjadi karena media baru yang ditempatinya cenderung masih sama dengan habitat awal, implikasinya bahwa benur /nener ikan bandeng memiliki adaptasi yang baik dengan lingkungan tersebut. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Romimohtarto dan Juwana, (2006) bahwa setiap organisme walaupun menempati habitat atau salinitas yang berbeda pada waktu yang singkat masih mampu melakukan adaptasi dengan lingkungannya.
            Sedangkan pada menit 15-30 dengan salinitas 0 ppt dan 10 ppt tingkah laku ikan mulai terlihat berbeda dari tingkah laku yang sebelumnya, sebagian benur ikan bandeng pada wadah ada yang berenang aktif, tidak terlalu aktif dan ada yang  mengalami stress. Pengamatan pada salinitas 15 ppt tingkah laku benur ikan bandeng dalam kondisi tidak berenang aktif dan sebagian benur yang lain mengalami stress. Hal ini terjadi karena benur sudah mengalami kesulitan dalam mengahadapi  tolerenasi salinitas yang berbeda. Kemudian benur ikan bandeng yang berada pada salinitas 20 ppt pergerakan renangnya semakin lambat, benur ikan ini sudah mengalami kesulitan dalam mengkodisikan kondisi lingkungan dengan keadaan cairan dalam tubuhnya (Hipoosmotik), semakin tingginya salinitas di lingkungan memicu proses osmoregulasi yang tinggi sehingga energi yang terdapat pada benur ikan bandeng banyak yang keluar karena kebutuhan untuk proses osmoregulasi yang semakin tinggi. Sedangkan pada salinitas 25 ppt Pergerakan ikan semakin lambat , bahkan ada yang berusaha untuk naik kepermukaan untuk mengambil oksigen di permukaan, namun dalam jangka tertentu sebagian benur ikan bandeng mengalami kematian. karena tidak mampu mentolerir perubahan salinitas yang semakin tinggi. Benur- benur ikan bandeng yang terlihat diam atau pergerakannya lambat menandakan bahwa adaptasi yang dilakukan sudah melebihi batas toleransi terhadap lingkungan dengan keadaan cairan sel dalam tubuhnya hal ini juga berdampak pada hilangannya  cairan dalam tubuhnya semakin banyak garam-garam yang masuk kedalam tubuhnya mendorong keluarnya cairan di dalam tubuhnya (Turgor).  Sedangkan Benur-benur ikan bandeng yang naik kepermukaan berusaha untuk mendapatkan o2 di permukaan  karena semakin tinggi salinitas suatu perairan maka semakin tinggi kebutuhan tingkat oksigen sehingga memicu  proses osmoregulasi yang tinggi. Hal ini terjadi karena lamanya ikan di suatu lingkungan yang berbeda (baru) mempengaruhi aktivitas tingkah laku organisme itu sendiri, sehingga memicu terjadinya proses osmoregulasi yang tinggi.
Kemudian pada salinitas 30 ppt yang terjadi pada tingkah lakunya adalah  Pergerakan dan arah renangnya Berada dalam keadaan normal dan bergerak aktif. Walaupun teori menjelaskan bahwa semakin tinggi salinitas maka kebutuhan oksigen semakin tinggi akan tetapi sebagian organisme khususnya ikan bandeng mampu mentolerir terhadap perubahan salinitas yang berbeda atau tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendi, (2002) bahwa organisme yang bersifat eurihaline mampu melakukan adaptasi dengan salinitas lingkungan yang tinggi.
Disisi lain dari hasil pengamatan yang kami lakukan pada benur/nener ikan bandeng, khususnya pada salinitas 20 ppt dan 25  ppt tidak sejalan dengan apa yang diungkapkan Effendi, (2002), pada kedua salinitas tersebut seharusnya semua benur/nener ikan bandeng mampu mentolerir perubahan salinitas yang tinggi, namun sebaliknya sebagian benur/nener ikan bandeng ditemukan dalam keadaan mati. Kemungkinan hal ini terjadi pada saat memasukan salinitas kedalam wadah tidak sesuai dengan sampel yang tertera pada wadah.
Pengamatan selanjutnya dilakukan pada benih ikan lele hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada menit 0-15 menit dengan salinitas 0, 10, 15, 20, 25, dan 30  ppt benih ikan ini masih dalam keadaan normal atau pergerakannya masih aktif . namun setelah diamati pada salinitas 15 ppt benih ikan ini mulai mentolerir perubahan salinitas, tingkah laku yang terjadi adalah sebagian ikan naik kepermukaan untuk mengambil oksigen dan sebagian yang lain pergerakannya lambat. Artinya bahwa proses osmoregulasi mulai berjalan  karena akibat salinitas yang semakin tinggi pula. Selanjutnya setelah memasuki salinitas 20 tingkah laku benih ikan lele semakin jelas, hal ini terlihat pada tanda-tanda benih ikan yang semuanya mengalami stress. Memasuki salinitas 25-30 ppt semua benih ikan mengalami kematian. Hal ini terjadi karena benih ikan lele tersebut  tidak mampu lagi beradaptasi dengan salinitas yang terlalu tinggi. Memasuki menit ke 30 dengan salinitas 0-15 ppt, semua benih ikan pergerakan renangnya terlihat sangat lambat atau terlihat diam di dasar perairan (wadah) kemudian setelah memasuki salinitas 20 semua benih ikan lele mengalami stress, dan akhirnya mengalami kematian pada salinitas 25-30 ppt. Hal ini sejalan dengan pernyataan  (Mahyuddin. K, 2011) bahwa semakin tinggi salinitas suatu perairan proses osmoregulasi yang terjadi di dalam tubuh semakin tinggi, sehingga dalam jangka waktu yang lama adaptasi tubuh ikan tidak dapat mentolerir tekanan osmosis yang tinggi sehingga cairan tubuh ikan akan keluar yang pada akhirnya akan mengalami turgor (menyusut) dan mati. Selain itu ikan lele bersifat stenohaline artinya tidak mampu beradaptasi dengan salinitas lingkungan yang tinggi.



V.     KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.   Kesimpulan
            Adapun kesimpulan dari hasil kegiatan praktikum ini adalah :
-          Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang dilakukan oleh organisme air untuk mengatur kehidupannya sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal.
-          Pada Nener ikan Bandeng (Chanos chanos) bersifat eurihaline karena mampu mentolerir perubahan salinitas yang tinggi. Meskipun beberapa nener mangalami stress.
-          Pada benih ikan lele (Clarias gariepinus) bersifat stenohaline sehingga tidak mampu mentolerir salinitas yang semakin tinggi sehingga menyebabkan benih tersebut mati semua
-          Perbedaan salinitas sangat mempengaruhi laju proses osmoregulasi pada ikan.  
5.2.  Saran
Adapun saran yang bisa kami sampaikan pada kegiatan praktikum kali ini adalah sebaiknya di sediakan buku penunjang di atas meja agar ketika melakukan kegiatan praktikum kita bisa membandingkan anatara praktikum yang kami lakukan dengan hasil praktikum dari buku penunjang. Hal ini dilakukan agar kita dapat mengetahui apakah kegiatan praktikum yang kami lakukan sesuai atau tidak dalam buku tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012.   Kebiasaan  Makan  Ikan  Lele.  Diakses  pada  tanggal 23 April 2012
………., 2011. Jenis-jenis Ikan Tawar. Diakses pada tanggal  29  November  2011
Affandi R dan Sulistiono, 2011. Ichtiology. CV. Lubuk Agung : Bandung
Burhanuddin, A. 2008. Morfologi dan Anatomi Hewan Air. Yayasan Dwi Sri : Bogor
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta : Jakarta.
Kusrini, E. 2007. Adaptasi Fisiologis Terhadap Salinitas. Rineka Cipta :    Jakarta
Hernowo. A dan Suyanto R. 2006.  Pembenihan dan pembesaran ikan lele. Penebar Swadaya : Jakarta
Mahyuddin, Kholish, 2011. "Panduan Lengkap Agribisnis Lele", Penebar Swadaya  :Jakarta
Marshall, W.S., dan M. Grosell. 2006. Ion transport, osmoregulation, and acid-base balance. In the Physiology of Fishes, Evans, D.H., and Claiborne, J.B. (eds.). taylor and Francis Group.
Puspowardoy, 2003. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Bandeng. Rineka Cipta : Jakarta
Romimohtarto dan Juwana, 2006. Biologi Laut. Erlangga : Jakarta

Takeuchi, K., H. Toyohara, dan M. Sakaguchi. 2000. Effect of hyper- and hypoosmotic stress on protein in cultured epidermal cell of common carp. Fisheries Science 66: 117-123.












LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR
PRAKTIKUM I
(OSMOREGULASI)




 








                        OLEH :
NAMA                      :  ASHAR JUNIANTO
STAMBUK              :  I1A1 10 050
PROG STUDI         :  M  S  P (Genap)
KELOMPOK          :  III (Tiga)
ASISTEN                 :  RAHMANSYAH, S.Pi


PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar